Warga Desa Santan Ulu menyeberang Habitat Buaya pakai Kereta Gantung Rakitan
Desa Santan Ulu, Marangkayu - Keterbatasan infrastruktur masih menjadi persoalan disalah satu desa bagi masyarakat di pedalaman. Di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, puluhan anak sekolah dan warga desa setiap hari harus menguji nyali, menyeberangi sungai yang kadang arus sungai tidak bisa diprediksi mengikuti cuaca bahkan terdapat buaya muara, dan wargapun menyeberanginya hanya dengan menggunakan sebuah kereta gantung tradisional yang ditarik secara manual.
Setiap pagi, gesekan tali menjadi simulator keberanian bagi anak-anak sekolah di Dusun Damai, Desa Santan Ulu, Marangkayu Kecamatan Marangkayu.Tanpa jembatan permanen, para siswa dari tingkat Sekolah Dasar hingga Menengah Atas terpaksa menggantungkan hidup dan masa depan mereka pada seutas katrol rakitan. Dengan seragam sekolah yang rapi dan tas di punggung, mereka bergantian menaiki kotak penyeberangan sederhana bermaterial kayu yang digerakkan secara manual dengan cara ditarik sekuat tenaga.
Bukan sekadar takut jatuh karena arus sungai yang deras, ancaman nyata yang mengintai di bawah kaki mereka adalah predator berdarah dingin. Sungai Santan dikenal sebagai habibat asli buaya muara .
Fasilitas berbahaya ini bukanlah proyek pemerintah, melainkan hasil swadaya masyarakat yang lelah menunggu janji pembangunan. Selain digunakan anak-anak untuk menuju sekolah seperti SD 021 dan SD 024, sarana katrol darurat ini juga menjadi satu-satunya urat nadi para petani untuk pergi berkebun dan mengangkut hasil panen sawit mereka.
Warga setempat kini hanya bisa berharap, potret perjuangan bertaruh nyawa di atas sungai buaya ini bisa segera mengetuk hati pemerintah daerah maupun pusat. Mereka mendambakan sebuah jembatan kokoh yang layak, agar anak-anak mereka bisa mengejar cita-cita ke sekolah dengan rasa aman, tanpa harus berteman dengan ketakutan setiap harinya.