Hilangnya Berkah Alam Kalimantan Di Desa Tebangan Lembak Kutim

nos 23 June 2026 7 x dilihat
Hilangnya Berkah Alam Kalimantan Di Desa Tebangan Lembak Kutim
Penampakan Desa Tebangan Lembak , Kecamatan Bengalon. Kabupaten Kutai Timur yang berdampingan dengan Lahan Tambang . (Arian)

KUTAI TIMUR - Di tengah gemerlap kekayaan sumber daya alam yang melimpah, potret buram kehidupan masyarakat pedalaman masih saja terjadi. Desa Tebangan Lembak Kecamatan Bengalon Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur menjadi salah satu bukti nyata sebuah ironi, di mana kekayaan alam yang dikeruk belum berbanding lurus dengan kesejahteraan warga setempat yang masih terjebak dalam keterbatasan fasilitas dasar.

Hingga saat ini, pemandangan kontras begitu lekat di Desa Tebangan Lembak. Aliran listrik dari PLN dan akses air bersih yang layak masih menjadi barang mewah yang sulit digapai. Sebagian besar warga desa masih menggantungkan hidup sepenuhnya dari hasil kebun pertanian dan kekayaan alam sekitar.

Alimudin, salah seorang warga Desa Tebangan Lembak. Ia mengungkapkan bahwa pasokan listrik di desanya sangat terbatas dan jauh dari kata cukup untuk menunjang aktivitas harian yang normal.

"Kalaupun ada listrik, biasanya hanya menyala pada malam hari saja, mulai jam 6 sore sampai jam 12 malam," keluh Alimudin dengan nada getir. 

Tak hanya perkara gelap gulita yang membayangi saat tengah malam tiba, krisis air bersih pun kian mencekik. Dampak aktivitas pertambangan yang masif di sekitar wilayah tersebut telah mencemari urat nadi kehidupan mereka, yaitu sungai desa. Warga kini tidak bisa lagi mengonsumsi air sungai secara langsung.Meski ada bantuan air bersih yang mengalir, jumlah dan kualitasnya sangat terbatas. "Karena sungai sudah terkena dampak dari aktivitas tambang, maka air yang ada sekarang hanya bisa dipakai untuk mandi dan cuci saja," tambah Alimudin.

Warga desa menuturkan, sebelum kurun waktu empat tahun terakhir, mereka selalu bersuka cita menyambut musim buah yang datang secara teratur setiap tahunnya. Berbagai komoditas buah lokal bernilai tinggi seperti durian, lai, serta aneka buah hutan khas Kalimantan dahulu tumbuh subur dan berbuah lebat secara alami di hutan desa mereka.

Kini, siklus alam itu perlahan memudar. Pohon-pohon yang dulunya menjadi tumpuan pangan dan ekonomi musiman, mulai enggan berbuah.

Desa Tebangan Lembak kini menjadi alarm keras bagi para pemangku kebijakan. Diperlukan tindakan nyata agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton setia di tengah hilangnya kekayaan alam yang dikuras dari tanah kelahiran mereka sendiri.