Habitat Menyusut, Orangutan Masuki Permukiman Warga di Bengalon

nos 23 June 2026 5 x dilihat
Habitat Menyusut, Orangutan Masuki Permukiman Warga di Bengalon
Orang Utan sedang berada di Permukiman Warga . (Arian)

KUTAI TIMUR - Alarm kelestarian alam kembali berbunyi di Kabupaten Kutai Timur. Keberadaan satwa dilindungi, orangutan, yang semakin sering terlihat berkeliaran di lingkungan permukiman warga Desa Tebangan Lembak, salah satu dari 11 desa di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menjadi gambaran nyata betapa kritisnya penyempitan ruang hidup primata khas Kalimantan tersebut.

Aktivitas eksploitasi sumber daya alam berskala masif serta perluasan perkebunan yang tak terkendali dituding sebagai dalang utama. Bentang alam yang selama puluhan tahun menjadi rumah aman dan habitat alami orangutan, kini telah berubah wajah secara drastis. Kondisi ekstrem ini memaksa mamalia cerdas tersebut keluar dari zona nyamannya, beradaptasi secara radikal, hingga nekat mendekati bahkan memasuki wilayah permukiman warga demi bertahan hidup.

Krisis lingkungan di Desa Tebangan Lembak tidak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga memukul kehidupan masyarakat setempat. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, perubahan lingkungan terasa begitu instan dan merugikan.

Hilangnya Musim Buah, Masyarakat mengaku sudah sekitar empat tahun lamanya tidak lagi dapat menikmati musim buah tahunan seperti sedia kala. Kemudian Kelangkaan Buah Endemik, Pohon-pohon buah di kebun maupun di dalam hutan semakin sulit menghasilkan buah. Berbagai jenis buah endemik Kalimantan yang dahulu tumbuh subur dan sangat mudah dijumpai, kini statusnya kian langka.

Berkurangnya vegetasi alami ini otomatis memicu rantai kelaparan bagi satwa liar. Orangutan semakin kesulitan menemukan sumber pakan di habitat aslinya, sehingga kebun-kebun buah milik warga dan area permukiman terpaksa dijadikan sasaran pencarian alternatif makanan.

Kemunculan satwa liar di tengah-tengah manusia memicu kekhawatiran akan potensi timbulnya konflik terbuka yang merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, masyarakat Desa Tebangan Lembak menaruh harapan besar dan mendesak pemerintah, pihak perusahaan, serta instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret di lapangan.

Warga menilai beberapa upaya penanganan mendesak yang harus segera dilakukan antara lain, Evakuasi dan Relokasi dengan Memindahkan orangutan yang terlanjur masuk ke permukiman ke wilayah konservasi yang lebih aman. Serta Perlindungan Koridor Habitat , Menjaga dan memulihkan sisa-sisa habitat yang ada agar tidak lagi dijamah oleh ekspansi industri.

Langkah cepat dan sinergis dinilai sangat krusial, bukan hanya demi meredam konflik antara manusia dan satwa, melainkan juga sebagai benteng terakhir dalam menjaga kelestarian orangutan dari ancaman kepunahan di tanah mereka sendiri.