Iklan

Media Sosial dan Kehidupan Mahasiswa: Peluang Besar yang Perlu Diimbangi Penggunaan Bijak

To 28 June 2026 2 x dilihat
Media Sosial dan Kehidupan Mahasiswa: Peluang Besar yang Perlu Diimbangi Penggunaan Bijak
Ilustrasi aktivitas mahasiswa memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses materi pembelajaran dan berkolaborasi. Penelitian menyebutkan bahwa pola penggunaan media sosial berperan dalam menentukan manfaat maupun tantangan yang dirasakan pengguna. Foto: Ilustrasi/AIIlustrasi aktivitas mahasiswa memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses materi pembelajaran dan berkolaborasi. Penelitian menyebutkan bahwa pola penggunaan media sosial berperan dalam menentukan manfaat maupun tantangan yang dirasakan pengguna. (Foto: Ilustrasi/AI)

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk mahasiswa. Selain sebagai sarana komunikasi, berbagai platform digital kini dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, memperluas jaringan profesional, hingga membuka peluang berwirausaha. Namun, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membawa berbagai tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Berdasarkan laporan DataReportal (2025), jumlah pengguna media sosial di dunia telah melampaui 5,3 miliar orang, atau sekitar 64 persen dari total populasi global. Angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu media komunikasi utama di berbagai kalangan, termasuk lingkungan perguruan tinggi.

Dalam dunia pendidikan, media sosial memberikan berbagai manfaat. Penelitian yang dilakukan Junco (2012) dan diterbitkan dalam jurnal Computers & Education menunjukkan bahwa penggunaan media sosial untuk aktivitas akademik memiliki hubungan positif dengan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran (student engagement). Mahasiswa memanfaatkan berbagai platform digital untuk berdiskusi, berbagi materi kuliah, mengikuti seminar daring, hingga memperoleh informasi mengenai beasiswa dan peluang magang.

Selain itu, media sosial juga dinilai mampu membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan digital yang semakin dibutuhkan di dunia kerja. Platform profesional seperti LinkedIn, misalnya, dimanfaatkan untuk membangun portofolio, memperluas relasi profesional, dan mencari peluang karier.

Meski demikian, penggunaan media sosial yang tidak terkendali juga menjadi perhatian para peneliti. Kirschner dan Karpinski (2010) dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan adanya hubungan antara penggunaan Facebook yang intensif dengan capaian akademik yang lebih rendah pada sebagian responden penelitian. Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan (korelasi), bukan bukti bahwa media sosial secara langsung menyebabkan penurunan prestasi akademik.

Dari sisi kesehatan mental, American Psychological Association (APA) melalui Health Advisory on Social Media Use in Adolescence (2023) menyatakan bahwa penggunaan media sosial dapat memberikan manfaat maupun risiko, bergantung pada pola penggunaan, jenis aktivitas yang dilakukan, serta kondisi masing-masing individu. Paparan konten yang mendorong perbandingan sosial (social comparison), misalnya, dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, atau menurunnya rasa percaya diri pada sebagian pengguna.

Temuan serupa juga disampaikan oleh Kuss dan Griffiths (2017) dalam International Journal of Environmental Research and Public Health. Mereka menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berpotensi berkembang menjadi Problematic Social Media Use (PSMU) atau penggunaan media sosial yang bermasalah, yang dapat memengaruhi produktivitas, kualitas tidur, hingga aktivitas sehari-hari apabila tidak dikelola dengan baik.

Selain persoalan kesehatan mental, tantangan lain yang dihadapi mahasiswa adalah meningkatnya penyebaran informasi yang belum terverifikasi di media sosial. Karena itu, berbagai lembaga internasional, termasuk OECD (2021) dalam laporan 21st-Century Readers: Developing Literacy Skills in a Digital World, menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu mengevaluasi kredibilitas informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Sementara itu, UNESCO (2023) juga menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital, termasuk media sosial dan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan, perlu diimbangi dengan etika, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab dalam menggunakan dan menyebarkan informasi.

Melihat berbagai manfaat dan tantangan tersebut, para ahli sepakat bahwa media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berdampak positif maupun negatif. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menggunakannya. Pengaturan waktu penggunaan, pemanfaatan media sosial untuk kegiatan produktif, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta membiasakan diri memverifikasi informasi merupakan langkah yang dapat membantu mahasiswa memperoleh manfaat maksimal dari perkembangan teknologi digital.

Di tengah pesatnya transformasi digital, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital mahasiswa melalui edukasi mengenai keamanan siber, etika bermedia sosial, kesehatan mental, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana yang mendukung proses belajar, pengembangan kompetensi, serta persiapan menghadapi dunia kerja, tanpa mengabaikan aspek kesehatan, akademik, maupun tanggung jawab sebagai warga digital.